JAYAPURA — Membaca ulang Catatan Seorang Demonstran di era sekarang, menurut Andy Tagihuma, seperti menemukan kembali cermin yang retak. Pertama kali ia membaca buku edisi LP3ES pada 1996, di kamar berukuran 3x4 meter di Jayapura, halaman-halamannya sudah menguning dan rapuh. Namun, kata Andy, di dalamnya tersimpan ringkasan paling jujur tentang transformasi moral generasi mahasiswa 1966 setelah berhasil menggoyahkan rezim Sukarno.
“Yang membuat catatan Gie begitu berbeda dari historiografi pergerakan mahasiswa lainnya adalah ia tidak menulis dengan jarak, ibarat seorang penonton,” tulis Andy dalam artikelnya yang dikutip Suara Papua. “Ia menulis dari dalam, sebagai bagian dari gerakan itu sendiri.”
Pemetaan Sistematis tentang Kekuasaan pada Tubuh Aktivis
Andy menemukan sesuatu yang jarang dibahas dalam historiografi resmi: bukan sekadar kekecewaan intelektual, melainkan pemetaan sistematis tentang bagaimana kekuasaan bekerja pada tubuh dan pikiran seorang aktivis. Gie menuliskan setiap tahap metamorfosis ini dengan detail klinis yang menyakitkan.
Dimulai dari bagaimana rekan-rekan seangkatannya menerima tawaran kursi di DPR-GR. Berlanjut ke bagaimana mereka mulai menikmati fasilitas mobil dinas dan kedekatan dengan para pejabat militer. Berakhir dengan yang paling pedih — bagaimana mereka mulai mengubah vokabular dan posisi kritis untuk menyesuaikan diri dengan kepentingan kekuasaan yang baru.
“Pertobatan Sukarela yang Diatur” dalam Sistem Kekuasaan
Apa yang tidak dikatakan Gie secara eksplisit, menurut Andy, adalah mekanisme halus yang kini disebut sebagai “pertobatan sukarela yang diatur.” Seorang aktivis tidak perlu dipaksa berkhianat. Cukup diberi akses, kedekatan, dan sedikit kenyamanan. Maka, perlahan, ia akan menyesuaikan diri dengan sendirinya.
Andy menekankan bahwa transformasi ini bukan sekadar pengkhianatan individu. Ini adalah proses sistemik yang bekerja diam-diam. Gie, dengan catatannya, membongkar mekanisme itu tanpa ampun — dan tanpa pretensi.
Relevansi di Papua: Mahasiswa sebagai Kekuatan Moral
Di tengah dinamika politik lokal Papua, Andy melihat relevansi pemikiran Gie semakin tajam. Mahasiswa, menurut Gie, seharusnya menjadi kekuatan moral, bukan alat politik praktis. Namun, godaan kekuasaan tetap sama: kursi, fasilitas, dan akses.
Andy mengajak pembaca untuk tidak sekadar mengenang Gie sebagai ikon demonstrasi. Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa catatan Gie adalah dokumen kesaksian moral yang terus berbicara — selama masih ada yang berani membacanya.