AGATS — Bartho Anton menegaskan, kekayaan seni dan budaya Asmat yang diakui dunia internasional belum berdampak maksimal pada kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut para pelaku kreatif masih berjuang sendiri dengan keterbatasan akses permodalan dan pemasaran.
“Kita harus jujur mengakui bahwa potensi besar tersebut belum memberikan dampak ekonomi yang maksimal dan merata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Bartho dalam sambutannya.
Payung Hukum untuk Pelaku Seni Ukir dan Kriya
Ranperda ini dirancang untuk memberikan perlindungan, pembinaan, dan kepastian regulasi bagi seluruh pelaku ekonomi kreatif di Asmat. Bartho menekankan, regulasi harus memastikan program kerja lintas organisasi perangkat daerah (OPD) berjalan terarah dan berkelanjutan.
Selain itu, Perda nantinya diharapkan membuka peluang kemitraan, kemudahan insentif, serta investasi yang sehat bagi industri kreatif lokal. “Regulasi yang baik adalah regulasi yang lahir dari bawah (bottom-up), yang mendengarkan langsung aspirasi, keluhan, dan kebutuhan nyata para pelaku kreatif di lapangan,” tegasnya.
Melibatkan 30 Pelaku dari Tiga Distrik
Kegiatan penyusunan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari perwakilan pimpinan OPD terkait, serta pelaku seni ukir dan penganyam dari Distrik Sawa Erma, Distrik Atsj, dan Distrik Agats. Hadir sebagai narasumber, Lektor Kepala Universitas Musamus Merauke, Dr. Julianto Jover Jotam Kalalo, S.H., M.H., dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Asmat, Matheus Metemko.
Bartho mengapresiasi inisiatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menggagas forum ini. Ia mengajak seluruh peserta aktif memberikan masukan agar regulasi tidak sekadar menjadi dokumen administratif.
Potensi Besar yang Belum Tergarap
Kabupaten Asmat dikenal memiliki kekayaan seni ukir kayu yang telah diakui sebagai warisan dunia. Selain itu, terdapat potensi besar pada subsektor anyaman pandan, kriya kulit kayu, musik dan tari tradisional, hingga kuliner berbasis sagu.
“Mari kita satukan tekad untuk membangun ekonomi kreatif yang mandiri, berbasis kearifan lokal, dan berdaya saing global demi kemajuan masyarakat Kabupaten Asmat,” pungkas Bartho.