SUGAPA — Peluru yang menembus dinding rumah warga di Kampung Yaduas, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Kamis (2/7) malam lalu, merenggut nyawa Merkiana Duwitau yang sedang hamil. Bayi dalam kandungannya juga tak tertolong. Peristiwa ini menjadi episode terbaru dari rangkaian kekerasan bersenjata yang terus menyasar masyarakat sipil di wilayah Pegunungan Tengah Papua.
Anggota DPRK: Rakyat Habis, yang Tersisa Hanya Nama Gunung dan Batu
Tomas Agimbau, anggota DPRK Intan Jaya dari Dapil 3 Partai Amanat Nasional (PAN), menyampaikan kecaman keras. Ia menegaskan bahwa pemerintahan daerah kehilangan makna jika rakyatnya terus menjadi korban.
"Adanya nama kabupaten dan adanya pemerintah itu karena dihuni oleh manusianya, bukan manusianya dibunuh sampai habis lalu yang tersisa hanya tinggal nama gunung, nama kali, dan nama batu saja," ujar Tomas dalam pernyataan yang diterima media, Jumat (3/7).
Bukan Sekadar Konflik: Gembala Juga Jadi Sasaran Tembak
Kekecewaan legislator asal Distrik Agisiga ini juga menyasar tindakan kekerasan terhadap tokoh agama. Tomas meluruskan status Gembala Elianus Agimbau yang menurutnya bukan bagian dari kelompok konflik, melainkan pelayan umat.
"Gembala Elianus Agimbau adalah benar-benar seorang penjaga domba, bukan penjaga tanah dan alam Papua. Kalau tidak ada hamba Tuhan yang disebut gembala, tidak mungkin ada gereja. Seharusnya mereka mencari pihak yang memang berkonflik, jangan asal tembak mati kiri dan kanan," tegasnya.
Desakan Ekstrem: Buka Dinas dan Kembalikan Garuda
Sebagai langkah konkret menghentikan pertumpahan darah, Tomas mendesak Bupati Intan Jaya dan 31 anggota DPRK bersatu mencari solusi. Ia bahkan mendorong tindakan ekstrem berupa pengembalian lambang negara sebagai bentuk protes.
"Mungkin kami 31 anggota DPRK bersama Bupati harus membuka dinas dan mengembalikan Garuda di depan Komnas HAM serta Kementerian Pertahanan baru bisa didengar baru ada solusi untuk masyarakat kami yang sedang menangis karena ditembak ke sana dan ke mari," pungkas Tomas.
Ia menambahkan, tanpa langkah nyata seperti itu, Intan Jaya tidak akan pernah menemukan jalan keluar dari siklus kekerasan yang terus berulang.