PAPUA — Sony resmi mengumumkan penghentian total produksi media fisik untuk semua game PlayStation, termasuk judul pihak ketiga, mulai Januari 2028. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh rilisan baru, tidak terkecuali opsi code-in-the-box yang selama ini masih dijual di ritel. Keputusan yang diumumkan pada 1 Juli itu menandai akhir era disc bagi konsol andalan Jepang tersebut.
Kabar terbaru, peringatan soal kebijakan ini mulai muncul di kotak kemasan PS5 edisi disc drive yang beredar. Sony tampaknya ingin memastikan calon pembeli mengetahui bahwa dukungan media fisik akan berhenti total dalam beberapa tahun ke depan.
Mengapa Harga Game Digital Bisa Turun?
Jacob Navok, mantan direktur business development Square Enix yang kini menjabat CEO Genvid, punya pandangan menarik soal dampak kebijakan ini. Menurutnya, persaingan antar publisher adalah faktor utama yang mendorong tekanan harga, bukan persaingan antar toko digital seperti Steam dan Epic Games Store.
"Kompetisi antara toko seperti EGS dan Steam meningkatkan take rate untuk developer, tapi belum tentu harga untuk pemain," tulis Navok di akun X/Twitter-nya. Sebab, publisher lah yang menentukan harga di etalase digital, bukan platformnya.
Navok menunjukkan data penurunan harga Final Fantasy 16 di Steam sebagai bukti. Judul tersebut berangsur turun seiring waktu karena harus bersaing langsung dengan game lain di etalase yang sama.
Prediksi Pola Harga ala Steam di PS Store
Jika PlayStation Store menjadi semakin digital-only, Navok memprediksi tren penurunan harga akan semakin cepat. "Kamu akan melihat lebih banyak sale dan dynamic pricing seperti di Steam, karena publisher akan bersaing lebih ketat satu sama lain," ujarnya.
Dinamika ini bisa menjadi kabar baik bagi pemain Indonesia yang selama ini kerap menunggu momen diskon besar di PS Store. Pola penurunan harga bertahap seperti yang terjadi di Steam berpotensi hadir lebih agresif di ekosistem PlayStation.
Harga Murah vs Hak Kepemilikan Digital
Meski harga berpotensi lebih bersahabat, kebijakan ini tetap menyisakan kekhawatiran serius. Isu hak kepemilikan digital (digital ownership rights) menjadi perdebatan utama, di mana pemain tidak lagi memiliki salinan fisik yang bisa diperjualbelikan atau disimpan sebagai koleksi.
Bagi gamer yang masih menginginkan opsi fisik, tidak ada jalan mundur setelah 2028. Pertukaran antara harga lebih murah dan kehilangan kepemilikan fisik ini menjadi pertimbangan yang harus diputuskan masing-masing pemain.
Keputusan Sony ini memang kontroversial, tapi perusahaan tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Peringatan di kemasan PS5 terbaru menjadi bukti bahwa transisi menuju era digital penuh akan berjalan sesuai rencana.