Pencarian

Sejarah NU Lawan Kooptasi Kekuasaan: Dari Muktamar Cipasung 1994 hingga Tambakberas 2025

Rabu, 19 Agustus 2026 • 16:58:02 WIB
Sejarah NU Lawan Kooptasi Kekuasaan: Dari Muktamar Cipasung 1994 hingga Tambakberas 2025
Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, dijadwalkan berlangsung untuk membahas agenda keumatan dan organisasi.

JAKARTA — Ada peribahasa lama di kalangan nahdliyin: NU itu ibarat lautan, gampang dimasuki tapi susah didasari. Banyak pihak menganalisa NU hanya dari luar, namun jarang yang bisa memahaminya secara mendalam.

Peringatan itu kembali mengemuka menjelang Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang. Isu yang beredar, sudah ada calon ketua umum yang dibekingi lingkaran Istana untuk kepentingan konstelasi politik 2029.

Jawaban Gus Yusuf Soal Tudingan Kooptasi PKB

Dalam sebuah diskusi, Redaktur media nasional sempat bertanya kepada Gus Yusuf Chudlori apakah pencalonannya sebagai Ketum PBNU adalah siasat Cak Imin dan PKB untuk mengkooptasi NU. Jawabannya menjadi tamparan halus bagi para penguasa.

"Anda belum memahami NU, NU terlalu besar untuk di kooptasi satu partai, negara saja tak sanggup menguasai NU, apalagi cuma partai," ujar Gus Yusuf.

Kalimat itu bukan pembelaan diri, melainkan pengingat sejarah bahwa NU lahir jauh sebelum republik ini berdiri. Organisasi ini akan tetap berdiri meski rezim berganti seratus kali.

Muktamar Cipasung 1994: Gus Dur Menang Lawan Mesin Negara

Intervensi kekuasaan bukan hal baru bagi NU. Pada Muktamar Cipasung 1994, instrumen negara turun langsung untuk menyingkirkan Gus Dur. Hasilnya justru sebaliknya, Gus Dur terpilih kembali untuk ketiga kalinya.

Calon dari Istana, Abu Hasan, harus menerima kekalahan telak. Sejarah mencatat, upaya mendikte pilihan muktamirin selalu berakhir dengan kekecewaan bagi penguasa.

Muktamar Lampung 2022: Kemenangan yang Berujung Friksi

Contoh terbaru terjadi pada Muktamar ke-34 di Lampung tahun 2022. Saat itu, arena muktamar disebut paling "bar-bar" dalam sejarah NU. Alat negara dijadikan mesin pemenangan dan dana dari "bohir" mengalir deras mengguyur para muktamirin.

Memang menang, tapi ujungnya ruwet. Konflik internal meledak tak terbendung. Energi organisasi yang seharusnya untuk umat justru tersedot untuk meredam friksi. Sang dalang yang sempat bercita-cita maju menjadi calon presiden pun akhirnya gagal total dan kini lebih memilih mengurus klub bola.

Tambakberas: Tanah Para Muasis Bukan Panggung Politik

Jombang adalah tanah kelahiran NU, tempat Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan para muasis lainnya menabur benih jam'iyah ini dari seabad lalu. Di atas tanah itulah terbaring jasad para pejuang NU.

Jangan sampai hajatan di tanah makam para muasis kembali diwarnai bisik-bisik lobi kekuasaan. Jangan ada bagi-bagi upeti untuk jual beli dukungan, titipan nama, atau tekanan halus dari lingkaran Istana demi kepentingan konstelasi 2029.

Preseden sebelumnya akan terulang: bukan kemenangan bagi siapa pun, melainkan luka baru bagi jam'iyah yang seharusnya dijaga dengan mulia.

Kekuasaan itu sementara, sementara NU selalu ada di tengah jamaahnya. Presiden datang dan pergi, partai naik dan tenggelam, tapi jam'iyah ini tetap berdiri menjaga akidah di pelosok-pelosok desa. Akarnya bukan di kekuasaan, melainkan di hati jutaan santri dan kiai yang setiap hari menjaga akidah Aswaja.

Siasat sehebat apa pun akan mentok di depan sumur yang sama: NU terlalu besar, dan kalau boleh sedikit dramatis — terlalu keramat untuk dijadikan mainan politik lima tahunan.

Muktamar di Tambakberas nanti seharusnya menjadi ajang nahdliyin melahirkan ide dan gagasan keumatan, bukan arena tarik ulur kepentingan sesaat.

Follow jayapuraonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: reportasepapua.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks