PAPUA — Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menegaskan bahwa hasil pendalaman sementara tidak mengarah pada keterlibatan kelompok atau komunitas tertentu dalam peristiwa pengeroyokan tersebut. Pernyataan ini disampaikan menyusul maraknya spekulasi di media sosial yang mengaitkan kasus ini dengan organisasi masyarakat.
"Kami belum menemukan adanya indikasi bahwa pelaku ini adalah merupakan anggota komunitas tertentu," kata Iman dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (2/9).Dua Terduga Pelaku dalam Sketsa Wajah Polisi
Polda Metro Jaya telah merilis sketsa wajah dua terduga pelaku yang diduga menjadi otak pengeroyokan terhadap Bambang. Sketsa ini disusun penyidik setelah mengumpulkan keterangan dari 14 saksi mata dan mencocokkannya dengan hasil analisis digital atas rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.
"Berdasarkan keterangan saksi, didukung dengan petunjuk-petunjuk lain, selanjutnya penyidik melakukan persesuaian antara keterangan saksi dan hasil analisa digital didapatkan sketsa wajah yang mengarah kepada terduga pelaku pengeroyokan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang tersebut," jelas Iman.
Terduga pelaku pertama digambarkan sebagai laki-laki berusia 30 hingga 40 tahun dengan bentuk wajah oval, alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata hitam, dan kulit cokelat. Sementara terduga kedua juga laki-laki dengan rentang usia sama, memiliki wajah kotak, hidung pesek, bibir bawah tebal, serta bercirikan kumis dan janggut.
Hingga saat ini, penyidik masih melakukan pengejaran terhadap kedua orang tersebut. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai identitas atau lokasi keberadaan para terduga pelaku.
Polisi Minta Spekulasi di Media Sosial Dihentikan
Iman mengimbau publik untuk tidak membangun opini sendiri sebelum penyidikan tuntas. Ia menilai narasi yang berkembang di media sosial justru berpotensi membingungkan masyarakat dan mengganggu jalannya proses hukum.
"Ini keterangan kami peroleh dari saksi-saksi yang sudah kami mintai keterangan, sehingga kami juga mengajak mari sama-sama semua pihak yang berada di media sosial beropini untuk menghentikan agar tidak membuat masyarakat menjadi bingung," tuturnya.Kasus ini bermula dari kericuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan pada 27 Agustus lalu, yang berujung pada tewasnya Bambang Setiawan, seorang warga setempat. Peristiwa tersebut sempat memicu ketegangan di lingkungan sekitar dan menjadi perhatian publik, terutama setelah muncul asumsi bahwa aksi pengeroyokan dilakukan secara terorganisir.
Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya terus memeriksa sejumlah saksi tambahan dan mendalami rekaman kamera pengawas guna mengidentifikasi para pelaku secara pasti. Polisi juga membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan terduga pelaku untuk melapor ke kantor polisi terdekat.