PAPUA — Langkah ekspor ini merupakan bagian dari fokus Koperasi Produsen HKTI di bidang ekspor dan impor. Peluncuran ekspor perdana direncanakan berlangsung dari Muara Karang dalam waktu dekat.
Diana Widiastuti menjelaskan, selain komoditas perikanan dan perkebunan, pihaknya tengah mengembangkan industri sorgum. Tanaman ini dinilai potensial menjadi alternatif pangan nasional di tengah upaya diversifikasi konsumsi.
Hilirisasi Jadi Kunci Nilai Tambah
Fadli Zon menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, pengembangan komoditas tidak boleh berhenti pada produksi mentah. Ekosistem dari hulu ke hilir perlu dibangun supaya manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.
"Komoditas seperti jagung dan sorgum punya potensi besar untuk dikembangkan," ujar Fadli dalam pertemuan yang juga dihadiri Dewan Pengawas Koperasi Produsen HKTI Nyoto Suwigno dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis itu.
Dorongan hilirisasi ini sejalan dengan tren kebijakan pemerintah yang gencar menghentikan ekspor bahan mentah. Pengolahan di dalam negeri diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani.
Sinergi Kementerian dan Komunitas
Pertemuan tersebut sekaligus membahas peluang sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan HKTI dalam pemberdayaan komunitas. Koperasi Produsen HKTI memandang komunitas sebagai bagian tak terpisahkan dari pengembangan usaha dan rantai hilirisasi.
Kerja sama dengan berbagai komunitas dinilai bisa memperluas jangkauan pasar dan memperkuat posisi tawar petani. Lewat koperasi, para produsen kecil dapat menggabungkan skala usaha sehingga lebih kompetitif di pasar internasional.
Bagi HKTI, ekspor bukan sekadar transaksi dagang. Ini adalah jalan untuk mengangkat kesejahteraan petani lewat pengolahan yang lebih maju. Jika sorgum dan komoditas lain berhasil diekspor dalam bentuk olahan, nilai ekonominya berlipat dibanding menjual bahan baku.