Pencarian

Josh Pugh, Komedian Inggris dengan 60 Caps di Timnas Futsal Tunanetra

Rabu, 07 Oktober 2026 • 15:35:31 WIB
Josh Pugh, Komedian Inggris dengan 60 Caps di Timnas Futsal Tunanetra
Komedian Inggris Josh Pugh telah memperkuat timnas futsal tunanetra sebagian Inggris lebih dari 60 kali.

PAPUA — Komedian Inggris Josh Pugh ternyata bukan hanya dikenal lewat sketsa "The Gaffer" di media sosial. Pria 30-an tahun itu telah mengenakan jersey Timnas Inggris lebih dari 60 kali bersama tim futsal tunanetra sebagian. Puncaknya, ia mencetak gol di final Kejuaraan Dunia Futsal IBSA 2019 melawan Ukraina.

Pugh bukan pemain biasa di skuad Three Lions. Ia rutin berlatih di St George's Park, markas besar federasi sepak bola Inggris, dan fotonya terpajang di koridor bersama potret Harry Kane, kapten timnas senior putra. Bedanya, Pugh menempuh jalur yang jauh dari sorotan kamera.

Perjalanan Pugh dimulai dari kesulitan yang ia alami sejak kecil. Penglihatannya menurun seiring lapangan yang ia mainkan semakin besar. Bola sulit dilihat, jarak dan cahaya terasa membingungkan. Ia sempat berhenti bermain sepak bola.

Dari Lapangan Tujuh Lawan Tujuh ke Timnas Inggris

Titik balik terjadi saat Pugh kuliah. Dalam sebuah pertandingan tujuh lawan tujuh santai, ia bertemu John McDougall, pria yang kehilangan penglihatan penuh pada usia 16 tahun. McDougall memperkenalkan konsep futsal tunanetra sebagian, olahraga yang ia geluti bersama timnas Inggris.

"Dia memperkenalkan saya pada konsep sepak bola tunanetra sebagian, pada dasarnya sama seperti futsal, dan ada tim nasionalnya, di mana dia menjadi kapten," kata Pugh kepada FourFourTwo. "Dia benar-benar memperjuangkan hal itu, dan saya, dan semuanya berjalan dari sana."

McDougall bukan sekadar memperkenalkan. Ia mendorong Pugh masuk ke sistem timnas. Sejak itu, Pugh menjalani kehidupan ganda: komedian di panggung hiburan, atlet di lapangan futsal.

Gol di Final Piala Dunia 2019 yang Datang Terlalu Cepat

Momen paling berkesan bagi Pugh terjadi di Kejuaraan Dunia Futsal Tunanetra Sebagian IBSA 2019. Inggris melaju ke final dan berhadapan dengan Ukraina, tim yang ia akui sangat kuat. Pugh membuka keunggulan Inggris lebih dulu.

"Saya punya firasat sepanjang turnamen bahwa saya akan mencetak gol besar, dan itu momen yang luar biasa, tapi itu juga definisi paling tepat dari mencetak gol terlalu cepat," ujarnya. "Ukraina akhirnya menang 6-2."

Kekalahan itu tidak mengikis pencapaian. Bagi Pugh, bermain untuk Inggris membawa pengalaman yang sulit ia dapatkan di dunia komedi: bepergian ke berbagai negara, mengenakan perlengkapan resmi, berlatih keras, dan menginap di hotel bersama rekan setim.

Kendala Tarif Telepon hingga Kisah Trabzonspor

Ada satu hal yang selalu membekas dari setiap perjalanan bersama Inggris. Para pemain bukan profesional bergaji besar. Mereka takut menggunakan ponsel di luar negeri karena tarif roaming.

"Kami bukan pemain pro atau jutawan, hanya laki-laki biasa yang takut berapa biaya menelepon rumah dari negara asing," kata Pugh. "Kami memakai telepon pelatih kepala sebagai gantinya."

Pugh juga menyimpan cerita tentang seorang pemain Ukraina yang dikabarkan pernah diminati Trabzonspor, klub Liga Turki. Menurutnya, pihak klub kemungkinan tidak menyadari turnamen apa yang sedang mereka saksikan.

"Ada juga pemain Ukraina yang sangat istimewa yang coba direkrut Trabzonspor. Sepertinya mereka tidak paham turnamen apa yang sedang mereka tonton," ujarnya. "Dia bagus di futsal, tapi seseorang seharusnya bicara dengan kepala rekrutmen mereka."

Kesamaan Sepak Bola dan Komedi

Bagi Pugh, karier di lapangan dan di panggung punya pola yang mirip. Keduanya menuntut kerja keras, keterlibatan penuh, dan kejujuran terhadap performa sendiri. Saat sedang tur komedi, ia tetap menyempatkan latihan di treadmill hotel karena tidak bisa sekadar lari di luar akibat keterbatasan penglihatan.

"Entah sepak bola atau komedi, kamu harus terus mengekspos diri... main banyak pertandingan, lakukan banyak pertunjukan, buat kesalahan dan belajar," katanya.

Pugh kini tetap aktif memperkuat timnas Inggris tunanetra sebagian. Di sisi lain, kontennya sebagai "The Gaffer" terus menghibur jutaan penonton. Dua dunia yang jauh, dijalani dengan disiplin yang sama.

Follow jayapuraonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: fourfourtwo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks