JAYAPURA — Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Esau Saweri mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mengedepankan persatuan dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah. Menurutnya, percepatan pembangunan di Papua memerlukan fondasi keamanan yang kuat serta partisipasi aktif dari semua pihak agar setiap program dapat berjalan optimal.
Mengapa Dialog Menjadi Kunci?
Esau menilai bahwa dinamika sosial yang berkembang di masyarakat harus disikapi dengan bijak. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Mari kita menyaring setiap informasi dengan baik dan jangan mudah terpancing oleh isu-isu yang berkembang yang hanya akan menguras energi kita,” ujar Esau dalam pernyataannya di Jayapura, baru-baru ini.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Adat
Selain menjaga stabilitas sosial, Esau mendorong pemerintah daerah untuk memprioritaskan keterlibatan kontraktor lokal dalam setiap proyek pembangunan. Ia menilai mekanisme kemitraan dan subkontrak yang transparan akan membuat manfaat pembangunan dirasakan lebih luas oleh pengusaha asli Papua.
“Sebagai Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua, saya meminta seluruh pengusaha Papua, tokoh intelektual dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama mendukung program-program pemerintah bagi kemajuan Papua,” tegasnya.
Sinkronisasi Kebijakan dengan Hukum Adat
Esau juga mengingatkan agar setiap pelaksanaan proyek tetap menghormati hak-hak masyarakat adat, termasuk keputusan pemilik hak ulayat sebelum pekerjaan fisik dimulai. Menurutnya, sinkronisasi antara kebijakan pembangunan dan hukum adat merupakan langkah strategis untuk mencegah potensi konflik di lapangan.
“Kolaborasi yang harmonis dengan berbagai pihak akan mempermudah pencapaian target pembangunan jangka panjang,” tuturnya.
Persatuan Sebagai Modal Utama
Lebih lanjut, Esau menegaskan bahwa semangat persaudaraan merupakan modal utama dalam mewujudkan Papua yang lebih maju dan sejahtera. Ia berharap setiap dinamika yang muncul dapat diselesaikan melalui ruang dialog yang terbuka dan konstruktif.
“Karena melalui komunikasi yang sehat maka pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia di Papua dapat berjalan optimal, aman, serta berkelanjutan,” tandas Esau.